SpongeBob SquarePants
Zobotrick

Blog anak Wonosobo

Silent


Diam, ya hanya itu yang bisa kulakukan, saat orang-orang sibuk berinteraksi satu sama lain. Apakah hanya aku di dunia ini yang selalu menutup diri seperti ini? Ternyata tidak, banyak orang yang sama sepertiku. Suka menyendiri dan menutup diri dari pergaulan. Kadang itu baik, kadang juga buruk. Baiknya adalah kita bisa terhindar dari yang namanya pergaulan bebas. Buruknya? Kita rentan depresi dan pastinya akan sulit menjalani hidup karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Kita tak bisa hidup tanpa orang lain. Aku sudah mencoba tuk berubah, namun tak pernah bisa. Aku selalu salah, kadang aku hanya diajak berkumpul saat mereka membutuhkanku, karena selain itu aku tak ada gunanya saat berkumpul karena hanya akan jadi patung yang hanya diam. Aku memang jarang sekali mau berbicara. Aku lebih suka bekerja, mencari informasi di internet yang tiada habisnya, menonton film kesukaan, iseng-iseng ngoding, bermain game atau membuat demo musik. Aku suka musik, orang bilang aku bisa menyanyi dengan baik. Namun aku benci bernyanyi di depan umum. Aku ikut kompetisi bernyanyi hanya untuk menyenangkan hati orang yang selama ini aku anggap sahabat. Aku menganggapnya sahabat terbaik yang pernah ku miliki. Aku akan lakukan apapun asal dia senang.
                Orang-orang mengenalku sebagai orang yang dingin dan misterius. Aku suka menyendiri, dan menutup diri. Terkadang aku tiba-tiba murung, menangis. Moodku terkadang berubah-ubah drastis. Orang-orang bertanya masalahku, aku tak mau menjawab. Aku bukan tipe orang yang gampang terbuka pada orang lain. Aku menganggap orang lain hanyalah penasaran, bukan mau membantu memecahkan persoalanku ini. Aku hanya mau menceritakan semuanya pada sahabatku saja. Aku tak mudah percaya pada orang lain, aku punya trauma akan hal itu. Saat aku merah, emosiku meluap-luap dan aku bisa berubah menjadi orang yang mengerikan. Namun kadang aku hanya diam dan merenung di kamarku. Aku menyiksa diri sendiri, karena aku tak mampu bercerita masalahku pada siapapun. Seharian tak ada nafsu untuk makan dan minum, untuk lakukan apapun. Yang kulakukan hanya bermain imajinasi di dalam pikiranku. Memikirkan masa lalu yang menyenangkan, yang kini sudah tidak bisa kualami atau memikirkan masalahku dan mencoba memecahkan sendiri.
                Soal cinta, aku sulit untuk jatuh cinta. Ketika aku menyukai seseorang, itu akan bertahan lama. Namun, tak pernah kuungkapkan. Yang dapat kulakukan hanya menunggu. Aku tak pernah pacaran, aku tak punya waktu untuk hal itu. Bullying sudah menjadi hal yang biasa, aku biasa dibully dari SD, SMP dan sampai sekarang pun masih rasanya. Kadang aku tertekan dan hanya bisa pasrah. Aku tak punya daya untuk melawan bullying. Aku hanya bisa diam, tak tau harus lakukan apa.
                Sahabat? Hmm…, aku tak pernah punya sahabat. Saat ini memang ada orang yang kuanggap sahabat. Dia orang yang pertama kali kukenal saat masuk SMK. Hari-hari singkat bersamanya, adalah hari-hari yang bahagia. Aku menemukan teman yang tepat, yang selama ini kucari. Namun, kami terpisah kelas dan jurusan. Hal itu tentu sangat berpengaruh. Kami jarang bertemu, hanya sesekali saja. Bahkan teman-temanku pun mungkin tak tau siapa sejatinya sahabatku. Aku menganggapnya sebagai sahabat baik, dia yang bisa mengerti kekuranganku. Dia yang sering mensupportku. Namun dia kadang sangat cuek, dan “tidak peka”. Aku pernah mengacuhkannya dan memilih bersama salah satu teman sekelasnya yang pernah menjadi teman sebangkunya. Dia yang merasa diacuhkan, menanyakan alasan mengapa aku mengacuhkannya. Aku tak tau apa maunya. “Diperhatikan malah cuek, dicuekin malah nanyain.” Bingung harus berbuat apa menghadapi teman seperti ini.
                Dia menyuruhku untuk unjuk gigi dengan bernyanyi di depan umum. Aku mau-mau saja, asal dia menontonku dan memberiku support. Maka aku berlatih keras supaya nanti sahabatku tidak kecewa. Namun usahaku sia-sia saja. Dia tidak datang menonton, dan tak ada sedikitpun rasa bersalah. Saat tampil, aku tak bersemangat karena dia tak datang, hasilnya pun kurang. Aku sudah mati-matian latihan, namun semua itu tak ada gunanya. Sebelumnya aku trauma, karena aku pernah dipaksa ikut kompetisi bernyanyi semacam ini namun saat hari H, aku tak diperbolehkan ikut. Itu membuatku terpukul, karena aku sudah berusaha keras latihan. Sejak saat itu aku tak mau tampil di depan umum. Namun aku berusaha menyembuhkan traumaku ini demi dia. Namun kenyataan memang tak seindah harapan. Karena hal itu aku depresi berhari-hari. Aku hanya diam di kamar, dan hanya duduk termenung. Tak terasa air mata ini menetes karenanya. Di sekolah aku hanya diam dan mencoba membuat demo musik, malas untuk keluar kelas. Jujur aku malu, setelah aku tampil di depan umum. Itu pertama kali dalam hidupku. Aku melakukan itu demi sahabat, tapi dia sendiri tak datang melihatku. Traumaku kambuh lagi, aku tak mau ikut kompetisi apapun. Aku senang kalah lomba, dengan ini aku tak akan tampil di kompetisi lagi. Aku lebih suka membuat musik  daripada harus menyanyi. Aku memilih fokus belajar, karena aku bertekad untuk sukses dengan hasil kerja kerasku sendiri. Aku tak pernah lagi menghubungi sahabatku saat liburan ini. Biasanya kami bercanda walaupun hanya lewat BBM. Seingatku ia pernah menulis “Ketika mendapat teman baru, teman lama biasanya dilupakan.”. Mungkin itulah yang terjadi padanya. Dia ekstrovert, tentu mudah mendapat teman baru, banyak teman baru. Tak seperti aku yang pendiam ini.

                Aku tak merasa diriku cerdas, aku masih harus banyak belajar. Tak hanya belajar akademis, namun juga bergaul. Jika ada pelajaran bergaul, mungkin nilaiku masih sangatlah rendah. Entah mengapa aku jadi pendiam seperti ini. Apa karena lingkungan? Atau memang keturunan?
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Coretan dengan judul Silent. Jika kamu suka, jangan lupa like dan bagikan keteman-temanmu ya... By : Zobotrick
Ditulis oleh: Puspita Zulviandari - Saturday, June 20, 2015
Comments
0 Comments

Belum ada komentar untuk "Silent"

Post a Comment